Akhir-akhir ini, jagat sosial media di ramaikan oleh kemunculan film “The Santri” yang menjadi bahan diskusi oleh masyarakat netijen meski lebih dekat kearah perdebatan. Terlepas dari berbagai perdebatan yang muncul di ruang publik, film The Santri menarik untuk diperhatikan sebagai penanda zaman, atau anggaplah sebagai penanda era digital. Bagaimana tidak, kelompok santri atau kelompok sarungan yang dalam term sosial dianggap sebagai kaum tradisional Islam, dengan munculnya film The Santri ini kini kaum tradisional Islam ikut terlibat secara langsung dalam dinamika kemajuan teknologi berbaur bersama term sosial lainnya menuju dunia tanpa sekat.

Namun jauh sebelum film The Santri menjadi ramai di ruang sosial media, sebenarnya kemunculan film-film hasil produksi dari kelompok sarungan telah lama dimulai dalam bentukbentuk yang lebih kecil. Film produksi dari Pondok Pesantren Mahasiswa Universal Al-Islami Bandung misalnya yang telah memproduksi film sejak tahun 2012 silam.

Film pertama yang di produksi oleh santri Pesantren Mahasiswa Universal berjudul “Koma: Sampai kapan menunggu titik” dan “Tukang Donat Naik Haji”. Film ini dimotori oleh santri mahasiswa bernama Widi Wahdiat sebagai penulis skenario sekaligus sutradara, dan Abdul Khalik sebagai editor yang hasil filmnya ditampilkan untuk agenda mingguan pesantren yaitu Muhadharah. Kedua santri yang menggarap film-film ini merupakan generasi angkatan pertama film santri Universal.


Film “KOMA: SAMPAI KAPAN MENUNGGU TITIK”


Film “TUKANG DONAT NAIK HAJI”

Kedua film ini dibuat dengan genre religi dengan mengambil bentuk-bentuk film religi yang berkembang pada masanya. Meski muncul dengan cinematografi yang belum terlalu menjanjikan, namun dengan kemunculan perdana kedua film ini telah membuat santri mahasiswa Universal memiliki bentuk dakwah dan kreatifitas baru dalam berekspresi serta menjadi gerbang menuju film-film santri mahasiswa Universal lainnya.

Generasi film santri mahasiswa Universal berikutnya muncul dari santri angkatan 2013 atau mereka menamai dirinya sebagai angkatan Suraung (Susah Senang Ngariung). Pada generasi ini film yang lahir, muncul dengan bentuk yang bebas, hal ini sesuai dengan masa awal kemunculan Youtube sebagai platform share video. Film-film pada generasi ini juga dominan dengan mengambil bentuk video sketsa yang bergenre komedi. Karena film yang di produksi yaitu dalam bentuk sketsa komedi yang lebih bebas dan sederhana penggarapannya maka generasi ini pun memproduksi film begitu banyak, sampai hampir di setiap penampilan Muhadharah selalu ada film yang di tayangkan, bisa dikatakan bahwa pada tahap ini santri pesantren mahasiswa Universal sedang mngalami demam film. Santri yang memelopori lahirnya film sketsa komedi diantaranya adalah Iqbal Faisal, Arkan, Muhamad Maksugi, dan yang lainnya.

Karya penutup dari generasi kedua film santri Universal adalah dengan lahirnya film yang berjudul “Ganteng-Ganteng Santri The Movie” yang meneruskan salahsatu cerita dalam film sketsa komedi berjudul “Ganteng-Genteng Santri Series”. Film GGS The Movie merupakan film santri Universal paling eksperimental pertama dan dengan durasi terlama yang mencoba menggabungkan antara genre religi, komedi, dan action dalam satu film dengan durasi sekitar 30 menit-an. Film ini di eksekusi oleh Muhamad Maksugi sebagai sutradara sekaligus editor dan Rijan Al-Khaetami sebagai pemeran utama sekaligus penulis skenario. Jika generasi pertama membuka gerbang lahirnya film-film santri Universal berikutnya, maka Film GGS The Movie boleh dikatakan menjadi pembuka gerbang film eksperimental berikutnya.

Film “GANTENG-GANTENG SANTRI THE MOVIE”

Melihat begitu produktifnya santri mahasiswa Universal dalam memproduksi film maka tercetuslah sebuah komunitas film santri mahasiswa Universal yang bernama “Tukang Pelm” yang di pelopori oleh Muhamad Maksugi, Iqbal Faisal, Nurdin Akbar, Muhamad Mualifi, dan Qori pada tahun 2016 awal. Keempat santri yang biasa bermain di belakang layar ini pun akhirnya ikut terjun menjadi pemeran dalam film yang di garapnya dengan judul “The Recrutment”. Film ini di produksi dengan bertujuan untuk mensosialisasikan keberadaan Tukang Pelm kepada santri baru berikutnya.


Film: “THE REQRUITMENT”


Generasi berikutnya setelah generasi kedua film Universal adalah generasi ketiga yaitu angkatan 2014 dan 2015 yang menamai dirinya sebagai angkatan Salaras (2014) dan angkatan Blaster (2015). Kedua angkatan ini sengaja penulis satukan karena memiliki pola-pola yang sama dalam film-film yang di produksi, serta menandai generasi kedua yang mulai redup dari demam film nya karena menuju masa akhir perkuliahan dan menandai pula fase redupnya perfilman di Universal setelahnya.

Generasi ini mengawali film nya dengan cara yang eksperimental yaitu mencoba membuat film sketsa komedi dengan sentuhan efek video yang menggunakan software editing After Effect, sebuah software editing video effect pertama yang disentuhkan pada film-film yang di produksi oleh Santri Universal. Hingga kemudian muncul film dengan genre action yang menggunakan lebih banyak video effect. Film-film yang menggunakan effect video umumnya di eksekusi oleh Ulumudin angkatan 2014. Selebihnya film-film yang di produksi masih dengan bentuk-bentuk yang sama dengan film-film yang diproduksi sebelumnya.

Akibat perfilman yang berkembang di Pesantren Universal, pada generasi ini juga kemudian melahirkan bentuk-bentuk film produksi baru yaitu dengan di tandai lahirnya Universal Television, sebuah media video jurnalistik yang memproduksi film-film untuk kepentingan jurnalistik seperti film dokumenter, reportase, video liputan, dll. Universal Television dipelopori oleh Muhamad Mualifi dan yang lainnya dalam naungan Medkominfo (Media Dakwah Komunikasi dan Informasi) angkatan 2014-2015. Semenjak itu produksi film santri mahasiswa Universal kian redup.


“UNIVERSAL TELEVISION”

Namun baru-baru ini santri mahasiswa Universal kembali memproduksi film yaitu short movie dengan judul “Depresi (2019)” dengan me-remake komunitas film santri mahasiswa Universal yang lama fakum sejak 2016 silam dengan nama Tukang Pelm menjadi Tukang Pelm Universal. Tukang Pelm Universal kali ini hadir dengan tim baru dari santri angkatan “Munajat (2017)” hingga “Syariat (2019)”. Film kali ini terlihat lebih baik dalam memainkan cinematography nya untuk tidak mengatakan lumayan. Apakah Tukang Pelm Universal dengan karya perdananya yang berjdul “Depresi” akan menjadi gerbang baru bagi film-film santri mahasiswa Universal yang lebih memainkan cinematography nya? Kita tunggu film-film yang di produksi berikutnya.


Film: “DEPRESI”

Dengan keterlibatan santri atau kelompok tradisional Islam dalam memproduksi film seperti hal nya film “The Santri” maka kelompok tradisional Islam secara tidak langsung sedang membuka keran yang telah lama memberi sekat kepada komunitas urban baik itu di level nasional maupun internasional untuk memperkenalkan identitasnya.


Penulis: Muhamad Maksugi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.