Akhirnya embun pun menguap, dan sinar matahari menampakkan cahaya nyatanya ke seluruh bumi. Awan kembali bergerak semu dan menari-nari melengkapi keindahan langit. Seperti sebuah pertunjukkan populer di panggung langit, semakin lama suasananya semakin memanas. Suhunya mulai tajam menusuk dan bisa membocorkan keringat dari dalam kulit.

Siang itu, segerombolan orang berkumpul di sebuah lahan kecil yang masih tertata pondasi baru dan tiang yang belum terisi semen. Dengan semangatnya mereka bekerja bersama-sama. Tampak ada kekompakan dan keceriaan yang menghiasi kerasnya perjuangan ketika itu. Sehingga tanpa sadar mereka mengabaikan teriknya panas matahari.

Ada yang mengangkut pasir dan bebatuan, kemudian mencampurnya dengan semen dan air. Ada pula yang berbaris mengangkat hasil adukan semen secara estafet untuk dimasukkan kedalam tiang yang tersedia. Meski pekerjaan ini membuat pegal-pegal, kotor dan lelah. Namun keluh itu bukanlah masalah bagi mereka, karena ada kenangan dan kebanggaan yang tercipta ketika tugas itu selesai meski hanya satu tiang saja.

Menurut salah satu santri, Ceng Muklis (21), yang bergabung dalam tim tersebut mengungkapkan bahwa kita harus tetap semangat, jangan mengeluh, tetap membantu meskipun hanya dengan doa dan tenaga seadanya.

“Yang kita korbankan ini mudah-mudahan menjadi amal sholeh buat kita dan menjadi saksi di hadapan Allah,” Kata pria yang akrab disapa Aceng ini.

Pembangunan gedung baru Pesantren Mahasiswa Universal memang masih perlu waktu dan proses. Untuk bisa mengantisipasi pekerja utama yang minim, santri harus bahu membahu mewujudkan impian Pondok Pesantren Mahasiswa Universal. [] SA | DS 2013

Tags: