Oleh: Fajar Meihadi
Ketua Alumni Mahad Universal

Tuhan adalah zat penuh cinta dan kasih sayang tetapi Tuhan memiliki cara berbeda dalam menyayangi hamba-Nya, kerap kasih sayang-Nya diejawantahkan dalam cobaan sebagai cara Tuhan untuk mengetahui maqam keimanan manusia. Dalam hadist qudsi Allah berfirman “jika Aku mencintai seorang hamba maka Aku turunkan ujian (kesulitan dan kesempitan) kepadanya, agar ia memohon kepada-Ku (agar ujian itu diangkat darinya, dan dengan cara ini dia mendekat kepada-Ku)”. Kedangkalan berpikir akan membawa pada pemahaman bahwa Tuhan seolah memiliki sisi tidak baik/adil. Tuhan bukan pembenci, hal demikian dapat kita lihat dari cara-Nya mengutus Nabi Musa dan Nabi Harun untuk mengingatkan manusia paling keji (Fir’aun), meski Fir’aun berlaku keji dan mengaku tuhan, Tuhan masih mengutus Nabi Musa dan Nabi Harun untuk memperingati Fir’aun dengan penuh kelembutan, betapa Mahapengasih Tuhan semesta alam. Rahman dan rahim Tuhan jauh lebih agung jika disandingkan dengan murka-Nya, neraka diciptakan bukan atas dasar amarah-Nya tetapi atas dasar Kemahaadilan-Nya, alam semesta diciptakan sebagai manifestasi Kemahakasih sayang-Nya termasuk manusia diciptakan Tuhan atas dasar cinta-Nya bukan atas dasar murka-Nya. Dengan rahman dan rahim-Nya Tuhan tetap menerima taubat hamba-Nya seberapapun besarnya dosa yang dilakukan manusia, karena kecintaan-Nya kepada manusia jauh melampaui amarah-Nya. Manusia adalah manifestasi Kemahacintaan Tuhan, maka secara fitrah manusia adalah pecinta bukan pembenci, kekerasan juga ujaran kebencian yang diciptakan manusia sejatinya adalah bentuk pengkhiatan atas fitrah kemanusiaan.

Penyembahan kepada Tuhan –sebagai Zat penuh cinta dan kasih sayang– oleh manusia –sebagai manifestasi Kemahacintaan Tuhan– harus melahirkan hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhannya, karena hubungan transendental mengakibatkan bermuaranya dua unsur cinta (manusia & Tuhan). Cinta kepada Ilahi tidak berhenti pada perasaan cinta yang menggelora buta, melainkan harus diejawantahkan di alam riil. Sikap mengagungkan ketauhidan tidak dibenarkan dengan cara kekerasan atau sentimen kebencian, tauhid memiliki keluasan makna dan sarat akan nilai tidak kemudian disempitkan pemaknaannya pada sebatas simbol, Tuhan dan Muhammad saw. yang melekat dalam kalimat tauhid adalah penebar cinta dan kasih sayang, sudah semestinya sikap mengagungkan tauhid harus direfleksikan dengan penuh cinta kasih tidak kemudian menebar sentimen kebencian untuk membela simbol –ciptaan manusia– dan disaat yang bersamaan merendahkan sesama –ciptaan Tuhan—.

Islam sesungguhnya adalah ajaran agama penuh cinta kasih dan perdamaian, tanpa harus mengenal lebih dalam ajaran Islam, cukup dengan mengenal tradisi sapaan yang dianjurkan saat bertemu dengan orang lain, kita dapat mengetahui bahwa Islam sangat mendambakan kedamaian. Dalam HR. Muslim dijelaskan “kalian tidak akan masuk surga kecuali jika kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman (secara sempurna) kecuali jika kalian saling mencintai. Maukah kalian kutunjukkan suatu amalan jika kalian lakukan, kalian akan saling mencintai? Sebarluaskan “salam” antara kalian”. Maka agama dilahirkan untuk merawat kedamaian bukan untuk menebar kekerasan. Oleh karenanya, siapapun yang hendak beragama harus memiliki spirit perdamaian dan menebarkan nilai-nilai toleransi, bukan kemudian menyikapi setiap yang tidak dikehendaki membuatnya dengan mudah membenci, memaki, hingga menyalahkan pihak lain dan merasa benar sendiri. Puncak kemuliaan manusia terletak pada akhlak dan Muhammad saw. adalah manusia dengan akhlak terbaik, yang dalam bahasa Siti A’isyah “akhlak Rasulullah adalah akhlak al-Quran”. Sikap ramah yang hangat selalu ditunjukkan kepada sesama tidak terlepas orang-orang yang membencinya sekalipun, kecintaannya kepada sesama –meskipun berbeda agama– tidak kemudian hilang lantaran telah membencinya. Betapa agungnya akhlak Rasulullah, tidak satu pun umat manusia yang mampu menandingi keagungan akhlaknya.

Akhlak Rasulullah sebagai panutan (role model) seolah paradoks dengan perilaku sebagian umatnya, perilaku yang dicontohkan Rasulullah seolah hanya sebatas cerita menarik tentang keagungan akhlaknya. Jalaluddin Rumi melakukan sebuah kritik dalam karya puisinya, “Keimananmu wahai muslim hanya kemunafikan dan kepalsuanmu, seperti ajakan tentang adzan alih-alih membawa orang ke jalan yang lurus malah mencegah orang dari jalan kebenaran, betapa banyak penyesalan masuk ke dalam hatiku dan betapa banyaknya kekaguman karena iman dan ketulusan Bayazid al-Bustami, setetes iman dari Bayazid al-Bustami menggoncangkan seluruh dunia, tetapi satu lautan iman dari kita tidak menimbulkan apa-apa”. Sepenggal puisi Rumi barangkali menjadi bahan renungan kita untuk mewujudkan iman dalam akhlak, orang yang beriman harus berbanding lurus dengan akhlak yang baik. Kendati tidak sanggup meniru secara utuh keagungan akhlak Rasulullah tetapi jika mengklaim sebagai umatnya (beriman) maka sudah seharusnya meniru akhlaknyanya meski sebatas yang dapat dilakukan.

Sepanjang sejarah hidup manusia didefinisikan dengan banyak cara. Filsafat mendefinisikan manusia sebagai homo sapiens (hewan berpikir), lain halnya dengan tasawuf yang mendefinisikan manusia sebagai makhluk pecinta, hanya dengan cinta sejati manusia mendapatkan ketentraman dan kedamaian. Cinta melahirkan sikap dan perilaku ramah, santun, dan saling menghormati dalam perbedaan. Rasulullah sebagai manusia dengan akhlak termulia penuh cinta suatu ketika dalam takdirnya disudut pasar Madinah dipertemukan seorang Yahudi buta diusia rentan sedang mengemis, ucapan yang kerap dilontarkannya “wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia gila, dia pembohong juga tukang sihir, kalian akan di pengaruhinya apabila mendekatinya”. Sikap Rasulullah yang mendengar langsung ucapan si pengemis Yahudi bukan malah membencinya tetapi justru setiap pagi Rasulullah selalu membawakannya makanan, tanpa sepatah katapun Rasulullah dengan penuh kelembutan menyuapi si pengemis buta seorang Yahudi. Betapa mulianya akhlak Rasulullah, membalas kebencian dengan kasih sayang. Umatnya tidak dituntut menyamai akhlak beliau secara utuh mengingat kemuliaan akhlak beliau tiada bandingan, tetapi sebagai umatnya alangkah lebih baik dengan segenap kemampuan harus berupaya meniru akhlaknya, kecintaan kepada Rasulullah tidak hanya berhenti pada ucapan dan lantunan doa yang indah tetapi mesti dibuktikan dalam pola tingkah laku di alam nyata. Penggalan cerita Rasulullah dengan pengemis Yahudi harus menjadi spirit umat muslim untuk menebar kebaikan kepada siapapun, terutama kepada sesama umat muslim dalam menyikapi perbedaan paham keagamaan. Dalam bahasanya Jalaluddin Rakhmat “dahulukan akhlak di atas fiqih”, maknanya barangkali tidak boleh hanya karena perbedan padangan keagamaan kita bersikap tidak baik kepada pihak lain.

Perbedaan pandangan dalam menafsirkan ajaran agama kerap direspon dengan sikap menyalahkan pihak yang berbeda, rasanya jauh lebih damai jika perbedaan paham keagamaan disikapi dengan penuh rasa hormat bukan merasa benar sendiri hingga mengejek dan mencaci kepada mereka yang berbeda. Orang yang tertutup dengan perbedaan baginya teman yang berbeda adalah musuh yang harus dihabiskan, tetapi orang yang terbuka dengan perbedaan baginya teman yang berbeda menjadi kawan mencari kebenaran. Sebagai manifestasi Kemahacintaan Tuhan, perbedaan tidak kemudian dengan mudah membuat manusia membenci terhadap sesama mengingat perbedaan pemahaman bersumber dari akal sebagai hasil buah pikir yang bersifat relatif. Rasulullah bersabda “tiada agama bagi orang yang tidak berakal”, dalam bahasa Cak Nur “Nabi diperintahkan untuk menyampaikan pesan yang terdiri dari dua hal namun hakikatnya tunggal yaitu beribadat dan berpikir”. Akal sebagai alat proses berpikir menjadi penting bagi orang yang hendak beragama (Islam) untuk menginterpretasi teks suci yang kemudian dihubungkan dengan fenomena yang terjadi. Kedangkalan menyikapi fenomena boleh jadi disebabkan kekeliruan tidak menggunakan alat interpretasi secara komprehensif dan mendalam. Buya Hamka sempat berpesan “agama Islam amat menghormati akal, karena tidak akan tercapai ilmu kalau tidak ada akal. Sebab itu, Islam adalah agama ilmu dan akal”. Penghormatan kepada akal ditandai tidak diwajibkannya orang tidak berakal untuk beragama (Islam), tingginya penghormatan agama kepada akal tidak menafikan sesuatu yang sifatnya supra rasional, mengingat keterbatasan manusia dalam mengaktifkan akal. Kendati demikian, akal masih menjadi unsur vital untuk menyelesaikan persoalan dalam beragama karena tidak cukup selesai hanya dengan teks suci tanpa akal sebagai alat interpretasi untuk menemukan jalan solusi. Tetapi Gus Dur mengingatkan bahwa “pencarian solusi dalam beragama tidak akan mudah bila berangkat dari main mutlak dalam pemikiran yang sifatnya tertutup”. Akal menjadi dasar pertimbangan menentukan sikap dan prilaku beragama disamping juga hati nurani.

Akal anugrah yang Tuhan berikan kepada manusia untuk keberlangsungan hidup dan teks suci sebagai pedoman membutuhkan akal sebagai alat menginterpretasi dalam upaya memahami, maka akal dan teks suci bagian unsur integral dalam menjalankan ajaran agama. Teks suci yang mutlak jika ditafsirkan oleh akal yang sifatnya subjektif mesti hasilnya subjektif, konsekuensi atas produksi akal yang subjektif pada gilirannya melahirkan tafsir yang variatif sebagai khazanah keilmuan bukan kemudian membenci dan bersikap tidak baik kepada pihak yang berbeda paham keagamaam, dialog terbuka barangkali cara yang lebih memungkinkan untuk menyikapi perbedaan. Perbedaan pandangan dalam penafsiran teks suci menjadi rahmat manakala intoleransi aktif maupun pasif tidak dijadikan dasar dalam menyikapi. Islam tidak menapikan perbedaan hasil buah pikir akal tetapi tidak juga membenarkan pertikaian atas perbedaan, terlampau jauh Islam mengajarkan toleransi kepeda segenap manusia dan terlampau jauh Rasulullah mengajarkan beragama Islam penuh cinta kasih dan perdamaian.

Sentimen kebencian yang muncul dari Barat terhadap Islam (Islam phobia) boleh jadi bukan serta-merta kesalahan mereka atas kedangkalan dalam memahami Islam sesungguhnya, tetapi barangkali kita sebagai umat muslim belum mampu secara kaffah menjalankan ajaran agama yang kita yakini kebenarannya. Perseteruan atas produksi akal yang subjektif kerapkali melahirkan kekerasan secara verbal maupun nonverbal dan intoleransi selalu dipertontonkan sebagian umat muslim yang pada gilirannya mengkonstruk pemahaman orang-orang Barat terhadap Islam itu sendiri. Kendati Islam mengajarkan cinta kasih dan perdamaian, dengn fenomena kekerasan yang dilakukan umat Islam telah memberikan sumbangsih dalam membentuk keraguan yang sempurna terhadap orang-orang Barat tentang ajaran Islam yang sesungguhnya dan sekaligus menghapus citra baik agama yang kita yakini kebenaranya dimata dunia. Hal demikian menjadi autokritik kita bersama selaku umat muslim untuk menunjukkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin kepada mereka yang merasa ketakukan dengan Islam. Selagi masih bisa berprilaku dengan santun, tidak perlu bersikap kasar kepada pihak lain yang berbuat salah karena mereka yang salah bukan Tuhan. Gus Dur menegaskan “kita butuh Islam yang ramah bukan Islam yang marah”, barangkali kita hanya perlu bersabar bukan marah-marah ketika yang lain salah. Islam rahmatan lil ‘alamin akan terwujud manakala segenap pemeluknya tidak kekurangan stok cinta dan kasih sayang.

Bandung, 01 Desember 2018.

Total 0 Votes
0

Tell us how can we improve this post?

+ = Verify Human or Spambot ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *