Oleh: Fajar Maehadi
Ketua Alumni Ma'had Universal

Setiap menjelang dan sepanjang Ramadhan ada perasaan gembira hadir dengan cuma-cuma, semacam kebahagiaan batin yang mendalam tidak dapat dihindarkan seolah melukiskan perjumpaan dalam ruang kerinduan. Tetapi Ramadhan kali ini agak berbeda dari biasanya, riak-ramai menjalankan tradisi sebagai simbol ekspresi gairah keagamaan [di daerah tertentu] nyaris tidak nampak.

Prof Riyadl [begitu sapaannya], seorang sarjana dari Arab menyebut umat muslim di Indonesia mempunyai ciri khas (tradisi) dalam menjalankan ibadah puasa, seperti beramai-ramai ke masjid di saat matahari terbenam (setelah berbuka puasa) untuk melaksanakan shalat isya dan tarawih, kemudian dilanjutkan membaca al-Quran (tadarrus) setiap malam satu juz, bahkan kegiatan buka (puasa) bersama menjadi media bernostalgia dengan kerabat lama. Kekhasan itu memberi kesan mendalam pada jiwa dan memberi warna pada suasana Ramadhan. Situasi dunia dilanda pandemic corona memberi dampak pada disrupsi rutinitas kehidupan, ekonomi mengalami depresi, gejala sosial tidak berlangsung normal, hingga corak yang khas (tradisi) dalam menjalankan ibadah puasa ‘pun tidak terlepas dari dampaknya.

Geliat virus corona merajalela, pertemuan antar manusia menjadi kesempatan bagi virus untuk berlipat ganda. Upaya yang dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran virus dengan menerapkan berbagai kebijakan, termasuk physical distancing, Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB), disertai gerakan stay at home. Hal ini membuat gegap gempita di bulan Ramdan menjadi sunyi dari tradisi. Bencana pandemic di tengah menjalankan puasa seolah memberi pesan bahwa interaksi dengan Tuhan tidak melulu dikeramaian, kesunyian boleh jadi awal dari khusuan. “I looked in temples, churches and mosques, but I found the divine within my heart”, begitulah kata Jalaluddin Rumi sebagai upaya mendekatkan diri pada Sang Ilahi.

Ketika sains dan ilmu pengetahuan yang [oleh sebagian pihak] dipertuan tidak kunjung memberi jawaban, para ilmuan [bidang medis] tidak sampai pada konklusi yang sama, ibadah puasa , di satu sisi, boleh jadi adalah kesempatan terbaik [ditengah kehidupan global yang dramatis] untuk meratap pada Tuhan (habluminallah) atas ujian yang tengah menimpa umat manusia. Seorang pemikir Islam zaman modern dari Mesir, Ali Ahmad-i ‘I-Jurjawi, berpendapat bahwa puasa adalah seagung-agungnya qurban (amalan mendekatkan diri pada Tuhan). Di lain sisi, puasa merupakan sarana pendidikan Ilahi yang berdimensi sosial, konsekuensi logis dari berpuasa adalah tertanamannya rasa solidaritas kemanusiaan, puasa tidak mengajarkan egoisme spiritual secara personal dan mengabaikan tetangganya yang kelaparan. Cara termudah melihat dimensi itu ialah kewajiban membayar zakat bagi muzakki yang diperuntukkan bagi yang kurang mampu (mustahiq) sebagai cerminan rasa empati pada sesama. Oleh sebab itu, ibadah puasan bersifat esoteric dan exoteric yang senantiasa berdampingan, dalam bahasa Nurcholis Madjid (akrab disapa Cak Nur) tanggung jawab sosial dan pribadi tidak dapat dipisahkan, sehingga tiadanya salah satu dari keduanya akan mengakibatkan peniadaan yang lain.

Wallahu’alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.