Oleh: Fajar Meihadi

Kata maaf memiliki kandungan mulia dan sangat penting dalam keberlangsungan komunikasi dan kehidupan sosial, tanpa kata maaf seseorang akan mengalami endapan kekecewaan, dendam, dan kebencian yang bermuara pada permusuhan. Ketidak mampuan memberi maaf hanya akan mewariskan jiwa yang kurang sehat dan menjadi beban pikiran dan perasaan. Meminta maaf dan memberi maaf memiliki kualitas yang berbeda, orang yang memberi maaf boleh jadi lebih mulia dari pihak yang meminta maaf, karena yang memaafkan tidak melakukan kesalahan dan menerima kenyataan pahit atas perlakuan orang lain kepadanya. Tindakan memaafkan mampu meringankan beban psikologis serta memberi energi positif untuk membuka lembaran baru esok hari, sehingga orang pemaaf selalu mengisi hari-hari penuh kedamaian dan terhindar dari kebencian dan permusuhan.

Menjadi seorang pemaaf bukan berarti menerima perlakuan orang lain tanpa diimbangi dengan proses edukasi, seyogyanya pemberian maaf yang sehat adakalanya disertai dengan hukuman sebagai wujud pemberian edukasi. Tentu hukuman yang diberikan bukan untuk melampiaskan luapan emosi, tetapi bertujuan memberi pendidikan agar orang yang berbuat salah tidak mengulangi kembali. Dalam skala makro seperti kehidupan berbangsa, orang yang merasa dirugikan atas perlakuan orang lain boleh melakukan proses hukum kendati dirinya telah memaafkan. Sedangkan pada skala mikro seperti kehidupan rumah tangga, suami atau istri dibolehkan untuk menasehati bahkan menegur, sepanjang bertujuan untuk memberi pelajaran kendati sudah memaafkannya. Tentu memaafkan yang tulus dan mulia yaitu memilih bersikap sabar untuk tidak marah meskipun berhak untuk marah (baca: kisah Syaikh Abdurrahman Bajalhaban).

Betapa pun melimpah ruah kekayaan alam Indonesia serta kepintaran sumber daya manusia, jika tanpa nilai maaf dalam kehidupan berbangsa hanya mendatangkan kebencian yang berujung pada permusuhan. Betapa pun kaya, pintar, tampan dan cantik, tetapi masing-masing egois dan enggan saling memaafkan, kehidupan rumah tangga hanya akan melahirkan pertikaian yang bermuara pada perceraian. Sikap memaafkan tidak berbanding lurus dengan kepribadian yang lemah, tetapi justru orang yang memaafkan adalah mereka yang lapang dadan, berjiwa besar, legowo, serta menjalani hidup penuh keikhlasan.[easymedia-gallery med=”1270″ filter=”1″]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.